A Thousand Sketches Between Tales and Destiny

Why cinema always be such an inevitable memories

Disclaimer : Tulisan ini dibuat secara subjektif oleh penulis dengan keadaan giting over-excited sehabis nonton Star Trek :Into Darkness yang sangat keren

Setiap moment dalam asmara anak muda Indonesia tidak dipungkiri bahwa bioskop adalah hiburan yang paling universal bisa dinikmati oleh sejuta umat. Tengoklah orang yang lagi PDKT atau pacaran dapat dipastikan mereka pernah ke bioskop (iya kan?) . Tidak jarang pula dari mereka yang menjadikan film sebagai penanda dalam siklus hidupnya,contohnya ketika ditanya suatu judul film bisa jadi mereka menjawabnya “oh iya,waktu itu aku nonton sama si A” atau “ah iya film itu kan aku nontonnya pas sama si B”

Khususnya saya seorang self proclaimed movie goers yang referensi perfilman cukup oke,menjadikan film sebagai media kedua setelah foto untuk menandai siklus hidupnya. Tengoklah Narnia,my first special movie yang bahkan bertahun-tahun setelah ribuan kali ditayangkan di TV masih terasa nuansa magisnya seperti film itu seakan-akan baru di tonton kemarin. Bukannya gak bisa move on sih,tapi secara manusia tetap ada kenangan yang akan kita ingat,nah saya sendiri memilih untuk menyortirnya melalui film. Oke lanjut (daripada para pembaca menjudge penulis adalah orang yang tidak bisa move on)

Ada banyak lagi box office sebagai penanda kenangan,tapi kali ini saya ambil salah satu contoh yaitu film Batman The Dark Knight Rises (selanjutnya akan disingkat TDKR) yang saya tonton bersama *ehem* salah satu tokoh yang saya tulis di postingan “Karma,chameleon” . Saya masih ingat betul waktu itu tahun 2012 saat hari pertama sebelum puasa dan kebetulan waktu itu bertepatan dengan premiere nya TDKR jadilah saya hari pertama taraweh malah ke bioskop untuk ‘taraweh’ dengan batman (iya,saya memang muslim yang kurang taat -__-) . Kira-kira waktu itu sekitr pukul 8 malam saya datang agak telat dan ternyata kebetulan si ‘dek chameleon’ ini sudah datang lengkap dengan kacamata separuh bulat dan senyumnya yang aduhai sekali. Oh iya,have I told you that this is our first meet?jadi ini pertama kalinya kita bertemu setelah saya mengajak dia untuk nonton via BBM . Dia yang notabene movie goers juga langsung mengiyakan ajakan saya (saya juga heran,dek chameleon ini gak takut saya culik apa gimana ya) . Long story to short, TDKR jadi film yang almost perfect selama setaunan ini,both in the movie itself and partner nontonnya. Bahkan TDKR selalu saya jadikan indikator sebuah film bagus until today….

And here I am,over-excited setelah nonton Star Trek Into Darkness yang kembali mempertemukan saya dengan ‘dek chameleon’. Setahun hampir berlalu sejak TDKR,banyak perubahan yang terjadi antara saya dan dia . Kalau dulu saya yang telat,kali ini dia yang telat .Ada juga hal yang tidak berubah,senyumnya yang aduhai dan kacamata separuh bulatnya . Sebenarnya dia sendiri fanboy starwars,makanya agak menyimpang fanboy starwars koq nonton star trek. Ok,let’s skip this bullshit

So,di akhir film saya hanya bisa mangap speechless melihat begitu kerennya film yang saya tonton sambil melihat sebelah yang ternyata dia juga agak-agak speechless(entah karena grogi apa karena filmnya :p) . Dalam hati saya bilang,ini nih momen buat move on dari TDKR . Mungkin cukup lah setaunan ini TDKR menjadi juara di hati saya karena dengan kejamnya telah merebut perhatian dan pandangan saya terhadap film bagus lainnya.Setelah ini saya cukup kuat untuk bilang, “Yes I’ve already move on from TDKR not just because Star Trek was better,but it’s you who still sitting beside me after the year and make it special”

Jadi mungkin sekarang saatnya saya berkata “Ah filmnya gak sebagus Star Trek Into Darkness” dan akan buru-buru ditimpali ” Ciyeee,Star Trek terus yang dijadiin pembanding”

Dan ya semoga nantinya semua film bagus yang akan kembali saya ceritakan dimulai dengan “Yes,I watched that movie with her” atau singkat kata,bangku sebelah adalah kamu yang terus menemaniku menonton film.

Sebagai penutup akan saya share sebuah quote dari mendiang Roger Ebert yang isinya begini “Never marry someone who doesn’t love the movies you love. Sooner or later, that person will not love you.”

p.s : dengan keadaan sudah mengantuk tapi masih sambil tersenyum,penulis berpikir mungkin lain kali akan ada cerita-cerita lainnya dengan menggunakan film sebagai kedoknya :))

Semarang, 15 Mei 2013 23:43

Father of the Bride Gives the Most Touching Speech (by Remi Caillaux) Merinding liatnya,yet so sweet :))

Sara Bareilles - Brave (Lyric Video) (by SaraBareillesVEVO)

Cannot wait for the upcoming album from Sara Bareilles :))

contohlah aku,

selalu tahu saat kau menyapaku dengan baju biru

enggan cemburu meski begitu merindu

tak pernah cemberut meski takut kehilanganmu

kurang jelas? 

aku memintamu untukku, menjadi milikku yang tak pernah berlalu.

menjadi sesuatu yang tak akan menjadi dulu. 

mau?

Ku pasti berada di selatan kau singgah.

Beberapa menit kau beranjak, ku tiba.

Kurasakan aroma parfummu sekejap.

Dan terdengar langkah-langkah mu berjalan.

Menghilang.

The Upstairs - Satelit